

Tahukah Sahabat? Kelak saat meninggal, yang menggiring mayat kita sampai ke liang lahat itu ada 3. Keluarga, harta, dan amal.
Tapi yang dua akan pulang, dan yang menemani kita di alam kubur hanya satu. Apakah itu?

Apa jadinya jika kita memilih amal yang bersifat jariyah. Misalnya untuk wakaf pembangunan masjid.
Walaupun harta kita disisihkan hanya untuk membeli 1 sak semen, 1 dus keramik, atau 1 roll sajadah, tapi barang-barang tersebut terus digunakan oleh orang yang masih hidup, maka hal itulah yang akan menjadi bekal amal kita. Semakin lama digunakan untuk ibadah, semakin banyak bekal amalnya walau kita sudah seratus tahun wafat.

Sahabat, hari ini Allah ingin mengabarkan peluang amal itu lewat pembangunan ulang sebuah masjid di pulau terpencil, yakni Masjid Nur Yaqin di Kepulauan Meranti, Riau.
Entah apakah bangunan ini pantas disebut sebagai masjid atau tidak, karena dinding kayunya sudah dimakan rayap, lantainya lapuk, lalu atapnya pun seng berkarat dan bocor. Kalau saja ada di kota, mungkin bangunan seperti ini sudah dirobohkan saking tak layaknya.
Tapi masyarakat di Desa Darul Takzim masih menggunakannya untuk beribadah karena hanya ini satu-satunya rumah Allah yang mereka miliki selama 20 tahun terakhir. Sebelum itu, tak ada masjid ataupun surau sama sekali.

Surau pernah hendak dibangun ulang, namun pembangunannya mangkrak hampir 5 tahun karena warga yang mayoritasnya buruh getah karet, kehabisan dana.
“Penghasilan masyarakat sini cuma dari karet. Tak ada harganya. Sudah turun jauh dibandingkan dulu. Jadi macam mana warga mau membangun ulang masjid?”, kata Ustad Nur, tokoh setempat.
Padahal waktu itu ratusan warga sudah iuran bertahun-tahun dari upah sadap pohon karet. Tapi yang terkumpul hanya sejuta rupiah. Mereka langsung membelanjakannya untuk semen, batu bata, pasir, lalu mengerjakan pondasi masjidnya bersama-sama. Namun hanya sampai situ kemampuan mereka.
Uang iuran masjid yang terkumpul lama sekali, ternyata habisnya cepat sekali. Sebab membeli bahan bangunan harus menyebrang ke luar pulau, dan ongkos angkut barang pakai perahu juga mahal.

Masjid Nur Yaqin berdiri di atas tanah gersang Meranti. Dikelilingi pohon-pohon besar. Aksesnya sulit. Penerangannya sedikit. Sumber airnya berwarna merah keruh. Tapi ratusan warga masih sangat membutuhkannya.
Jangan sampai masjid satu-satunya di pulau terpencil ini roboh tergerus waktu karena tak ada saudaranya yang menolong pembangunannya sama sekali.
Sahabat, maukah membantu saudara-saudara kita di Desa Darul Takzim untuk punya masjid yang layak? Ikut wakaf senilai satu batu bata saja insyaAllah bisa menjadi warisan pahala dan bekal amal kita setelah wafat.
“Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari no. 450 dan Muslim no. 533).
Jangan lewatkan peluang untuk mengekalkan kebaikan yang akan mengalir selamanya, dengan cara Klik Donasi Sekarang!