

Indonesia adalah negeri kepulauan yang sepertinya mustahil kekurangan air. Padahal faktanya, kampung-kampung di pulau terpencil selalu menjadi titik yang paling kesulitan mengakses air bersih. Kesempatan untuk bersedekah air selalu terbuka lebar di tempat seperti ini.
Contohnya di Kepulauan Riau pedalaman, Desa Mayangsari Kec. Merbau.
Airnya yang digunakan warga pedalaman Riau ini rupa-rupa wujudnya. Ada air hujan yang kotor, air payau yang asin, dan air gambut yang keruh dan asam. Dari ketiganya, sayang, tak ada air bersih yang layak konsumsi.

Yang “paling mending” hanyalah air hujan. Warga Desa Mayangsari terbiasa menggunakannya untuk kebutuhan masak dan minum. Tapi, itupun jika hujan turun. Tak peduli jika hujannya jam 1 atau jam 2 malam, warga tetap mengumpulkannya sebanyak mungkin, karena itu kesempatan langka untuk bisa mengonsumsi air yang warnanya jernih.
Selama puluhan tahun ini, yang lebih sering mereka konsumsi adalah air gambut yang warnanya gelap seperti minyak jelantah. Air ini kotor dan rasanya asam, benar-benar tak enak dipandang, dan rasanya aneh di lidah.
Tapi ini menjadi satu-satunya sumber air yang dimiliki warga. Demi memenuhi kebutuhan air di rumah, ibu-ibu di sini setiap harinya bisa 3x bolak-balik memasuki hutan yang jaraknya 1 km lebih dari pemukiman, sambil menenteng banyak jerigen untuk menampung banyak air.

Kok bisa ada pulau kecil yang dikelilingi air malah kesulitan air bersih? Ternyata kepulauan di Meranti dipenuhi oleh jutaan hektar rawa-rawa sehingga airnya bercampur sisa-sisa pembusukan tanaman. Inilah yang membuat warnanya keruh dan rasanya asam. Adapun di sungai-sungai kecil, airnya asin (payau) karena bercampur dengan air laut.
Rendahnya ekonomi masyarakat dan sulitnya akses, membuat mereka tak bisa mengupayakan berbagai teknologi untuk mengolah air.
Sampai detik ini, tak ada satupun generasi di Desa Mayangsari yang tau bagaimana rasanya air jernih dan segar, kecuali jika ada orang yang sakit, maka mereka akan mengusahakan membeli air jernih yang harganya 8 ribu/jerigen kecil.
Satu-satunya cara yang masih menjadi khayalan mereka adalah membangun sumur bor lebih dalam yang disertai dengan teknologi desalinasi (mesin penyaring). Namun hal itu masih sulit diupayakan karena 100% masyarakat di Desa Mayangsari merupakan nelayan berpenghasilan kecil dengan peralatan kerja yang serba ketinggalan zaman. Butuh 3 jam perjalanan darat + 3 jam naik speedboat melewati teluk-teluk untuk bisa berjumpa dengan mereka.

Berangkat dari hal tersebut, Yayasan Amal Mulia menginisiasi program Patungan Wakaf Sumur untuk bisa memecahkan permasalah air bersih di kampung-kampung terpencil. Program ini meliputi pengeboran sumur, penyediaan mesin desalinasi, pipanisasi air, dan pembangunan fasilitas-fasilitas air gratis yang lebih mudah diakses warga.
Bagi Sahabat yang tertarik berkontribusi, sekaligus menitipkan sedekah air atas nama diri sendiri ataupun orang-orang tersayang yang sudah wafat, inilah kesempatan yang tepat untuk mengikuti jejak Sa’ad Ibnu Ubadah.
Dengan sistem patungan, kontribusi walau seharga 1 liter air saja akan sangat bermanfaat. Selama sumber air terus mengalir, insyaAllah turut mengalir pula bekal pahala jariyah walaupun kita telah wafat.